• Feldman Willis posted an update 3 months, 1 week ago

    SariAgri – Sektor pertanian di Afrika telah kehilangan sekitar 3,6 triliun dolar AS (sekitar Rp51 ribu triliun) dalam setahun karena kerusakan yang disebabkan oleh spesies asing invasif.

    Menurut studi yang dilakukan oleh para peneliti yang berafiliasi dengan Center for Agriculture and Biosciences International/ CABI, kerugian pada sektor pertanian akibat spesies invasif hampir setara dengan 1,5 kali PDB seluruh negara Afrika jika digabungkan.

    “Diperkirakan dampak dari Invasive Alien Species (Spesies Asing Invasif) di sektor pertanian Afrika mencapai 3,6 triliun dolar setahun, merupakan kerugian yang luar biasa di mana lebih dari 80 persen orang yang tinggal di daerah pedesaan dan bergantung pada tanaman yang mereka tanam untuk makanan dan sebagai sumber pendapatan,” kata Direktur Jenderal Pengembangan CABI, Dennis Rangi.

    Dilansir dari Xinhua Net, Rangi menyebut pemerintah negara-negara di Afrika harus menanggapi dengan tegas spesies invasif yang telah membahayakan kemampuan mereka untuk memberi makan populasi penduduk yang terus bertambah.

    Baca Juga: Berubah Jadi Payung untuk Tipu Mangsanya, Ini Burung Terlicik di Dunia Hanya dengan Kulit Kentang, Begini Trik Mudah Hilangkan Uban dalam Sekejap

    Dalam sebuah studi terbaru diketahui bahwa biaya tahunan rata-rata spesies invasif per negara Afrika adalah sekitar 76,32 miliar dolar (sekitar Rp1.089 triliun). Salah satu contoh spesies invasif itu adalah ulat grayak jatuh (fall armyworm/FAW) yang menyebabkan kerugian pada tanaman sebesar 9,4 miliar dolar AS (sekitar Rp134 triliun).

    Berita Pertanian Terkini Sedangkan tuta absolut merupakan salah satu hama tomat yang menyebabkan kerugian hasil tahunan tertinggi di Afrika.
    Berita Pertanian Indonesia Nilai kerugian yang dialami akibat hama itu diperkirakan mencapai 11,45 miliar dolar AS (sekitar Rp163 triliun).

    Kerugian hasil yang dialami oleh bahan pokok utama seperti jagung, tomat, singkong, mangga dan pisang mencapai 82,2 miliar dolar AS (sekitar Rp1.173 triliun). Sementara hilangnya pendapatan yang berasal dari peternakan mencapai 173 juta dolar AS (sekitar Rp2,5 triliun).

    Josefa Sacko, Komisaris bidang Pertanian, Pembangunan Pedesaan, Ekonomi Biru dan Lingkungan Berkelanjutan di Komisi Uni Afrika (AUC) mengatakan bahwa studi yang dilakukan CABI bertujuan untuk mengatasi spesies invasif yang telah menggagalkan transformasi sistem pangan di benua itu.

    “Mengelola spesies asing invasif merupakan keharusan mutlak jika pertanian Afrika ingin mencapai potensi penuhnya dan memberi makan populasinya yang terus meningkat dan diperkirakan akan berlipat ganda menjadi 2,5 miliar orang pada tahun 2050 yang berkontribusi terhadap ketahanan pangan global,” kata Sacko.

    Spesies asing invasif sendiri didefinisikan sebagai spesies yang tidak asli (asing) pada suatu ekosistem yang kemunculannya menyebabkan kerusakan sosial, ekonomi atau lingkungan.

    Berita Pertanian Indonesia Video Terkait

     

Skip to toolbar